Halaman

Sabtu, 04 April 2020

MAKING SUGGESTIONS : LET’S, WHY DON’T , SHALL I/WE AND COULD AND SHOULD



THE ROLE OF SUBMIT YOUR ASSIGNMENT
1. PLEASE CREATE GOOGLE CLASSROOM TROUGH YOUR GOOGLE
2. CLASS CODE m3iqdcq
3. Do not forget write your name in this column, as your attendance list.


TUTORIAL CARA MEMBUAT, MENGUNGGAH DAN MEREVISI TUGAS DI GOOGLE CLASSROOM





MAKING SUGGESTIONS : LET’S, WHY DON’T , SHALL I/WE
PAGE 86       
Please read you book page 86 about making suggestions: LET’S, WHY DON’T , SHALL I/WE
Note:
TIPE OF SENTENCES
SUGGESTION
SITUATION: WHEN YOU ARE HUNGRY
You can say??
LET”S + SIMPLE VERB
WHY don’t + SIMPLE VERB
SHALL I/WE + SIMPLE VERB
POSITIVE
LET’S
Let’s go to the canteen.
Note: lets’ = let us, means I have suggestion for us
NEGATIVE
LET’S NOT
Let’s not go to the canteen. Let’s delivery order some foods.
Let’s not =  rarely used
WHY DON’T
Why don’t go to the canteen?
Why don’t  = let’s. why don’t is using in informal (friendly)
QUESTION
LET’S
Let’s go to the canteen, ok?
SHALL I
Shall I order you some foods?
SHALL WE
Shall we calling food service?



MORE INFORMATION ABOUT MAKING SUGGESTIONS : LET’S, WHY DON’T , SHALL I/WE







MAKING SUGGESTIONS : COULD AND SHOULD
PAGE 87
Please read you book page 87 about making suggestions: could and should
Note:
PRESENT TIME
PAST EVENT

COULD + V1
COULD HAVE + V3
THERE IS NO EFFECT
SHOULD + V1
SHOULD HAVE  + V3
THERE IS CAUSE AND EFFECT

EXAMPLE
  1. COULD
Aji       : Why don’t we use ZOOM to learn structure? 
Wafa   : We could use ZOOM.
 Aji has SUGGESTION to use ZOOM as the learning method. If  Aji wants to use it, please, but if he do not want, he could avoid the SUGGESTION.
Aji       : I am so hungry.
Wafa   : We could go to the canteen after structure class.
Wafa suggest his friend go to the canteen after structure class. It will happen if, Aji agree with Wafa’s SUGGESTION. If Aji, prefer go to another place is it ok…. Because it just SUGGESTION.
  1. SHOULD
Aji       : I have trouble to understand this material.
Wafa   : You could ask your lecturer.

The first speaker has problem to understand the material. Then, the second speaker has SUGGESTION to ask Aji’s Problem with the lecturer. It’s just SUGGESTION not more. There is no effect.

  1. SHOULD HAVE
Aji       : I am headache since last night.
Wafa   : You should have gone to the doctor this morning.
Wafa suggest Aji went the doctor when he headache. It was possible for Aji went to the doctor. If Aji went to the doctor, he will be okay now.

Note: Here, in the sentences, we use could have + V3, the situation in the past.
The situation calls as hindsight advice (peninjauan sugesti/saran yang mestinya harus dilakukan di masa lalu. Jika tidak dilaukan memiliki dampak).

Jika Aji telah pergi ke dokter pagi ini, Aji tidak akan sakit kepala. Faktanya, pada saat Aji bercerita ke Wafa (situasi sudah malam pukul 20.00), wafa tidak juga kedokter. Wafa hanya mengeluh jika dia sakit kepala sejak kemarin malam.

  1. COULD HAVE
Aji       : I just sleep at home last Saturday. I am bored
Wafa   : You could have followed me at Alun-Alun Nganjuk.
Aji told Wafa about his Saturday. It was bored. In the contrary, Wafa enjoyed his last Saturday with his friends at alun-alun. If, Wafa known th Aji had no plan in last Saturday, that was better for Aji followed Wafa in Alun-Alun.

Note: this situation calls as hindsight possibilities (peninjauan saran yang kemungkinan dapat dilakukan di masa lampau)

Aji merasa bosan dengan akhir pekannya dengan hanya tidur di kamar.
Sedangkan wafa menikmati akhir pekannya bersama teman-temannya di alun-alaun. Jika wafa mengetahui bahwa Aji tidak memiliki acara di akhir minggu, ada baiknya Aji ikut bergabung dengan Wafa ke alun-alaun. Jika hal ini terjadi maka Aji tidak memiliki akhir pecan yang membosankan.

Assignment     :
1.      Exercise 21
2.      Exercise 22
3.      Exercise 23









Jumat, 03 April 2020

PERAN GURU terhadap PERKEMBNGAN PROAKTIVITAS SISWA


                          
           Pada dasarnya guru adalah sebuah profesi yang bertugas membimbing murid untuk memiliki potensi dan tata kelakuan yang baik dalam lingkungan internal maupun eksternal.Akhir-akhir  ini banyak marak kasus tentang siswa yang berani bolos sekolah dengan menggunakan surat ijin palsu dan secara terang terangan meghisap rokok di toilet maupun di katin dengan masih menggunakan seragam maupun atribut sekolah.Peran Guru terhadap Perkembangan Proaktivitas Siswa sangat penting dalam membentuk karakter anak di kemudia hari.Guru harus dapat memberikan pemahaman kepada siswa agar para siswa dapat mengerti tentang tindakan kurang baik yang di lakukan dengan menggunakan surat ijin palsu dan tidak memanfaatkan waktu luang dengan sebaik-baiknya.
Dalam hal ini guru harus memiliki pandangan”role model”yang dapat di gugu dan ditiru muridnya.seorang guru memiliki kewajiban sebagai pengajar,pembimbing dan pelatih namun apabila tidak memiliki kulialitas ini ,seorang guru tidak bisa dikatakan sebagai guru yang berkuaitas. (aqidah,2004:29-30)
          Perkembangan proaktivitas siswa adalah sikap dimana siswa dapat memilih kehendak dan keinginannya sesuai dengan mempertimbangan baik buruknya yang akan timbul dan mempertanggung jawabkan perbuatan yang sudah di lakukan.
Oleh karena itu artikel ini akan membahas tentang Bagaimana Peran Guru terhadap Perkembangan Proaktivitas Siswa.
Definisi guru adalah pegawai negeri sipil (PNS) yang diberi tugas,wewenang dan tanggung jawab oleh pejabat yag berwenang untuk melaksanakan pendidikan di sekolah termasuk yang melekat pada jabatan (surat edaran [SE] Mendikbud dan kapala BAKN Nomor 57689/MPK/1989).
Di Indonesia istilah guru sebagai tenaga fungsional yag mengajar jenjang pendidikan dasar,menengah dan atas.guru memiliki kedudukan khusus di semua wiayah indonesia dan memiliki peran dan tanggung jawab yang besar dalam membentuk generasi muda yang memiliki kualitas dan penerus bangsa yang maju.guru memiliki peran sebagai fasilitator dimana agar siswa dapatmengemmbangkan potensi dan kemampuan secara optimal melalui lembaga pendidikan sekolah baik didirikan swasta maupun negeri.dalam pandangan umum guru tidak hanya di kena secara formal melainkan juga sebah agen dalam masyarakat dimana guru sendiri memberikan bantuan kepada masyarakat yang memiliki pengetahuan yang minim.
Definisi proaktivitas adalah sebuah konsep mengenai manusia yang bertanggung jawab atas diri atau kehidipannya sendiri,proaktifitas memiliki defiisi tegas sebagai “kemampuan untuk memiliki kebebasan dalam memilih repons,kemampuan menghambil inisiatif dan bertanggung jawab”. (Covey,1990;224)
Makna yang pertama adalah bagaimana seseorang nantinya dapat mengambil keputusan/kebebasan memilih,kebebsan memilih memiliki unsur penting diantaranya adaah memperhatikan self-awareness (kesadaran diri) ,imagination (imanjinasi), concience (kata hati), independent-will (kehendak-bebas).Makna kedua adalah mengambil inspiratif dimana saat mengambil tindakan perlu cermat,penuh kesadaran,tidak agresif atau memihak satu diatara yang lain.Makna ketiga adalah tanggung jawab dimana setiap tindakan pasti akan akibat.karnanya setiap melakah perlu memikirkan akibat dari masalah yang akan timbul. Oleh karena itu sekolah sebagai lembaga bertanggug jawab memberikan sumber daya manusia yang berkualitas sehingga mampu menghadapi persaingan global dimasa yang akan datang.
Lalu Bagaimana Peran Guru terhadap Perkembangan Proaktivitas siswa?
            Peran guru sangat penting dalam membentuk karakter siswa dalam mempunyai rasa tanggung jawab terhadap yang dilakukan.guru juga harus banyak memiliki pengetahuan dan skill.salah satu skill seorang guru adalah untuk mengetahui siswanya melakukan kesalahan.salah satu kesalahan yang sering dilakukan siswa saat ini adalah dengan membolos saat pelajaran maupun pengajaran sedang berlangsung.sesuai dengan salah satu kode etik guru yaitu seorang guru harus berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan atau pembinaan.oleh karena itu seorang guru harus mengetahui sebab mengapa siswa melakukan bolos saat pelajaran.karena tiada akibat tanpa sebab,dalam peran ini yang digunakan adalah peran guru sebagai supervisior dimana pemberian bimbinngan dan pengawasan kepada peserta didik,memahami permasalahan yang dihadapi peserta didik,menemukan permasalahan yang terkait dengan proses pembelajaran,dan akhirnya memerikan jalan keluar pemecahan masalahnya.tindakan guru secara tegas dan langsung seperti hukuman dan pukulan akan berdampak pada sikis seorang siswa.dan siswa tidak akan berani bertanggung jawab atas apa yang dilakukan adalah suatu kesalahan.jadi tindakan seorang guru adalah cerminan untuk muridnya yang di atur dalam kode etik guru indonesia.
Kode etik guru indonesia berisi Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia indonesia seutuhnya berjiwa pancasila,guru memiliki dan melaksanakan kejujuran profesional tentunya guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan.dan guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang keberhasilannya proses belajar pembelajaran oleh sebab itu guru memelihara hubungan baik dengan orangtua murid dan masyarakat sekitarnya untuk membina peran dan rasa tanggung jawab bersama terhadap pendidikan.Sehingga guru secara pribadi dan bersama-sama mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya,guru memelihara hubungan seprofesi,semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial dan guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI, sebagai sarana perjuangan dan pengabdian sehingga guru melaksanakan segala kebijakan pemerintahdalam bidang pendidikan.
            Oleh karenanya Peran Guru terhadap Perkembangan Proaktivitas Siswa sangat penting karena siswa dapat lebih bertanggung jawab terhadap kesalahannya dan dapat belajar memilih hal yang baik dan buruk untuk dirinya.peran guru sebagai supervisior tidak dapat keluar dari batasan kode etik guru indonesia,peran dan fungsi guru sebagai pengajar,pembibing dan pendidik tentu berdampak pada keputusan yang akan di ambil.keputusan seorang guru juga harus memperhatikan dampak sikis dan perkembangan anak didiknya.karena tindakan guru akan “glugu lan ditiru” oleh muridnya.


Daftar Pustaka

Suparlan.2006.Guru sebagai Profesi.yogyakarta:hikayat publishing
Desmita.2007.Psikologi Perkembangan.Bandung:PT remaja rosdakarya bandung

Karya :Ayu nur aqidah (201810100304)

Kamis, 02 April 2020

SILABUS ILMU PENGETAHUAN SOSIAL


SILABUS PENGANTAR ILMU SOSIAL

Mata Kuliah                          : Pengantar Imu  Sosial
Kode Mata Kuliah                :
SKS                                        : 2 SKS
Dosen  Peanggung Jawab     : CALTIRA ROSIANA, M.Pd.                                             
Program Studi                       : S-1 (PPKn)
Prasyarat                               : -
Waktu Perkuliahan              : (Sesuai Jurusan dan Prodi)

A. Deskripsi Mata Kuliah
Mata Kuliah ini akan menyajikan dan mendiskusikan beberapa pokok bahasan; pengertian, ruang lingkup, pendekatan-metode-teknik, sejarah perkembangan ilmu-ilmu sosial, deskripsi konsep-konsep, generalisasi, dan teori-teori ilmu sosial (sosiologi, antropologi, geografi, sejarah, ekonomi, psikologi, dan ilmu politik).


B. Pengalaman Belajar
Selama mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diwajibkan:
1.      Memenuhi jumlah kehadiran kuliah minimal 80% dari seluruh pertemuan yang dialokasikan.
2.      Mengikuti ceramah, tanya jawab, dan diskusi kelas
3.      Tiap kelompok menyajikan makalahnya di kelas sesuai dengan penugasan.


C. Evaluasi Hasil Belajar
Keberhasilan mahasiswa dalam perkuliahan ini ditentukan oleh prestasi yang bersangkutan dalam:
1.      Kerajinan dan tanggung jawab mahasiswa dalam mengikuti kegiatan perkuliahan.
2.      Aktivitas dan partisipasi dalam kegitan di kelas.
3.      Pembuatan an penyajian makalah sesuai dengan tugas yang diberikan.
4.      Laporan literature (annoted bibliografy).
5.      UTS dan UAS; Bentuk Soal : Essay dn Objective test
6.      Nilai akhir ujian berdasarkan rumus dari akumulasi: kehadiran, tugas-tugas, UTS, dan UAS.

D. Tujuan Mata Kuliah
Setelah menempuh mata kuliah ini mahasiswa diharapkan mampu:
1.      Memahami dan menjelaskan pengertian dan ruang lingkup ilmu (sosial), struktur ilmu (fakta, konsep, generalisasi, teori dan peranannya).
2.      Memahami dan menjelaskan pengertian, ruang lingkup, pendekatan/metode/teknik sejarah perkembangan, konsep-konsep, generalisasi-generalisasi, dan teori-teori sosiologi.
3.      Memahami dan menjelaskan pengertian, ruang lingkup, pendekatan/metode/teknik sejarah perkembangan, konsep-konsep, generalisasi-generalisasi, dan teori-teori antropologi.
4.      Memahami dan menjelaskan pengertian, ruang lingkup, pendekatan/metode/teknik sejarah perkembangan, konsep-konsep, generalisasi-generalisasi, dan teori-teori geografi..
5.      Memahami dan menjelaskan pengertian, ruang lingkup, pendekatan/metode/teknik sejarah perkembangan, konsep-konsep, generalisasi-generalisasi, dan teori-teori sejarah..
6.      Memahami dan menjelaskan pengertian, ruang lingkup, pendekatan/metode/teknik sejarah perkembangan, konsep-konsep, generalisasi-generalisasi, dan teori-teori ekonomi.
7.      Memahami dan menjelaskan pengertian, ruang lingkup, pendekatan/metode/teknik sejarah perkembangan, konsep-konsep, generalisasi-generalisasi, dan teori-teori psikologi.
8.      Memahami dan menjelaskan pengertian, ruang lingkup, pendekatan/metode/teknik sejarah perkembangan, konsep-konsep, generalisasi-generalisasi, dan teori-teori ilmu politik.

E. Uraian Pokok Bahasan Setiap Perkuliahan
I.a. Membahas silabus perkuliahan dan mengakomodasi berbagai masukan dari mahasiswa untuk memberi kemungkinan revisi atau penyempurnaan terhadap pokok bahasan yang tidak penting dan memasukkan pokok bahasan yang dianggap penting serta relevan. Sesuai dengan apa yang dikemukakan dalam silabus, pada pertemuan ini dikemukakan pula tujuan, ruang lingkup, prosedur perkuliahan, penjelasan tentang tugas-tugas yang harus dilakukan mahasiswa, ujian yang harus diikuti termasuk jenis soal dan cara menyelesaikan/menjawab pertanyaan-pertanyaan dan buku-buku sumbernya.

I. Pengertian Ilmu, Ilmu Sosial, dan Struktur Ilmu
         1.Pengertian ilmu, ilmu sosial, dan ruang lingkup ilmu-ilmu sosial.
2.Metode ilmiah dan kebenaran ilmiah.

II.          a. Pengertian dan ruang lingkup sosiologi.
b. Pendekatan, metode, teknik, jenis penelitian soiologi.
c. Manfaat Sosiologi.
d. Hubungan soiologi dengan ilmu-ilmu sosial lainnya.

III.       Struktur ilmu sosiologi
a.   Sejarah perkembangan sosiologi
b.      Konsep-konsep sosiologi
c.          Generalisasi-generalisasi sosiologi
d.      Teori-teori sosiologi
IV.  Antropologi
      a.  Pengertian dan rang lingkup antropologi
      b.  Pendekatan, metode, teknik, dan ilmu bantu antropologi.
      c.  Hubungan antropologi dengan ilmu-ilmu sosial lainnya.
      d.  Obyektivitas antropologi
      e.  Manfaat antropologi
      f.   Sejarah perkembangan antropologi.
V.  Struktur Ilmu Antropologi
  1. Konsep-konsep antropologi
  2. Generalisasi-genealisasi antropologi
  3. Teori-teori antropologi
VI. Ilmu Geografi
  1. Pengertian dan  ruang lingkup ilmu geografi
  2. Pendekatan, metode, teknik, dan ilmu bantu geografi
  3. Manfaat terapan ilmu geografi
  4. Sejarah perkembangan ilmu geogafi
VII. Struktur Ilmu Geografi
  1. Konsep-konsep geografi
  2. Generalisasi-generalisasi Geografi
  3. Teori-teori geografi.
VIII. Ujian Tengah Semester (UTS)

IX.  Ilmu Sejarah
      a.   Pengertian dan ruang lingkup ilmu sejarah
      b.   Pendekatan, metode, teknik, dan ilmu bantu sejarah
      c.   Kedudukan, peranan, dan fungsi sejarah
      d.   Rapprochement ilmu sejarah dengan ilmu-ilmu sosial lainnya
      e.   Sejarah perkembangan ilmu sejarah

X.  Struktur Ilmu Sejarah
  1. Konsep-konsep sejarah
  2. Generalisasi-generalisasi sejarah
  3. Teori-teori sejarah
XI. Ilmu Ekonomi
a.       Pengertian dan ruang lingkup ilmu ekonomi
b.      Metode ilmu ekonomi
c.       Mazhab-mazhab ilmu ekonomi
d.      Sejarah perkembangan ilmu ekonomi

XII. Struktur Ilmu Ekonomi
  1. Konsep-konsep imu ekonomi
  2. Generalisasi-generalisasi ilmu ekonomi
  3. Teori-teori ilmu ekonomi
XIII. Psikologi
  1. Pengertian dan ruang lingkup psikoogi
  2. Pendekatan, metode, teknik, dan imu bantu psikologi
  3. Mazhab-mazhab psikologi
  4. Sejarah perkembangan psikologi
XIV. Struktur Psikologi
  1. Konsep-konsep psikologi
  2. Generalisasi-generalisasi psikologi
  3. Teori-teori psikologi
XV. Ilmu Politik
  1. Pengertian dan ruang lingkup ilmu politik
  2. Pendekatan, metode, teknik, an ilmu bantu ilmu politik
  3. Tujuan dan fungsi ilmu politik
  4. Hubungan ilmu politik dengan lmu-ilmu sosial lainnya
  5. Mazhab-mazhab ilmu politik
  6. Sejarah perkembangan ilmu politik
XVI  Struktur Ilmu Politik
  1. Konsep-konsep ilmu politik
  2. Generalisasi-generalisasi ilmu politik
  3. Teori-teori ilmu politik

Rabu, 01 April 2020

PIDGIN AND CREOLE


Before 1930s some linguists ignored pidgin and creole because it seems as marginal languages and it makes bad for their careers. Although these languages are importance to our understanding of language. These languages appear in poor and dark situations of society. so as languages pidgin and creole do not have social power. So they could be safely to ignored by society. But the study of pidgins and creoles become important for sociolinguistic because we can see how process of language origin and change on around us. 

A.   Lingual Francas 
Lingual francas can use to facilitate communication between people whose have different mother tongues. Lingual francas has four functions for example trade language, contact language international language and an axillary language. The consequences of population migration or for purpose of trade make develop for lingual francas.
            In the colonial era, Malay language was used as a trading language known as lingual franca for the purpose of communication in trade. During the Dutch colonial period they did not want to introduce Dutch to be a language of communication because they were not intended to spread Dutch culture. Therefore Malay language remains the lingual franca language between the Dutch and the natives.
            Another example we can see the many island in Indonesia and they used different language to communicate. For example the Javanese language. in Surabaya the Javanese language used tends to be rough. But if in Yogjakarta the Javanese language is more refined. If two people who use different language of communication or called lingual franca. But after the existence of Indonesia as the language of unity, two people from different regions can use as lingual franca that is understood by both people who are communicating.

B.   Pidgin and creole

1.      Definitions
            Pidgin is a language without native speaker. It is not anyone’s first language but it is contact language. so, pidgin is a product of a multilingual situation who want to communicate must find or improvise a simple language system that will allow them. In another situation one language dominate position between other speakers. Therefore Pidgin is sometimes considered a ‘reduce’ variation from ‘normal’ language. With simplification of grammar and vocabulary to make special needs of contact group.
            Three languages are needs for process of pidginization. When three languages are involved and one is dominant, speakers of two or more lower ones seem to play an important role in yhe development of pidgin. They must not only talk to those in dominant position, but they must also talk to each other. To do this, they must simplify the dominant language in certain ways, and this process of simplification may or may not have certain universal characteristics. We may argue, therefore that pidgin arises from simplification of language when language dominates groups of from each other by language differences.
In ancient times many countries came to Indonesia to buy species. They come from various countries. Then they have conversation with pribumi or local people. But what language was used at the time. For example Chinese came to Indonesia. So they make a new language to communicate with local people or we can could pidgin.    
             
Pidgins is not a type of ‘baby-talk’ used by adults because simplified forms are the best that these people can manage. Pidgin have it has special rules, and as we will see, very different pidgins have a number of things in common that raise important theoretical problems relating to their origin. Individual Pidgins can be temporary, for example, German Pidgin from Gastarbeiters (guest-workers) in Germany which developed in the 1970s and 1980s in cities likes Berlin and Frankfurt among workers from countries such as Turkey, Greece, Italy, Spain and Portugal. That phenomenon however is persistent and between 2 and 12 million people in the world is estimated to use one or the other from them. In addition they are used for very important things for those who care, even for self-government in Papua New Guinea. They are very functional in the lives of those who use them and are important for that reason alone if nothing else.
In contrast to Pidgin, Creole is often defined as Pidgin which has become the first language of a new generation of speakers. As Aitchison (1994, p 3177) says, “Creole arises when pidgins become a mother tongue” because it’s Creole, its ‘normal’ language in almost anything. Holmes says that a creole is a pidgin that has developed in structure and vocabulary to express the range of meanings and serve the various functions needed from the first language.
2.   
   Distribution and Characteristics
The languages of pidgin and creole have become widespread even though they are not exclusively distributed in the world usually in a place close to the sea. Because the area is intended for trade. During the colonial period in Indonesia, VOC established a trading center in Batavia or now called Jakarta. The trade area is getting wider throughout Indonesia. They made Malay into a trading language at the time.
Characteristic basically pidgin and creole have the following characteristics:
-          Incomplete clause structure
-          Reduction and omission of syllables, or words
-          Reduction of consonant groups
-          Use of basic vowel letters (a,I,u,e,o)
-          Use of reduplication to explain plural, superlative, and other parts of reinforcing the concept.

3.      Origin
Linguists who have studied pidgin and creoles have long been attracted by the similarities they find between them. Pidgins from very different parts of the world show extraordinary similarities in structure even when the language standard associated with them are very different. Furthermore, pidgins and creoles based on the same standard language but found in places far from each other may have a high level of mutual understanding. Various French varieties that are proclaimed and creole are found geographically so far apart from Carabbiean, Indian Ocean and South Pacific for example views can sometimes be related to other, namely European languages are somehow ‘better’ than others and many people speak ‘primitive’ languages, that is languages that are ‘lacking’ in certain respects. Such deficiencies can occur cited as evidence that the person himself is inferior. We must note that linguist cannot find a ‘primitive language’, which claims about the intellectual flaws associated with most ‘racists’ and that is this theory of pidgins ignoring important facts.
4.   
   Pidgin to Creol
Whatever its origins, it is generally recognized that Pidgin almost always involved in the early stages of Creole. Pidgin comes from the need to communicate, especially when those who need to communicate speak various languages and speakers of ‘target’ languages are ‘superior’ in a certain sense and may be temporary too. Thus, pidginization seems to have occurred and seems to be happening repeatedly, because that is one of basic means by which linguistic contact is made between speakers of various languages who find themselves in asymmetrical social relations, that is, one in which there is an imbalance serious power. A very interesting fact is how similar the result is from place to place and from time to time. Not every pidgin eventually becomes a creole, e.g., experience a process of creation. In fact, very few to do it. Most pidgins are lingual francas, there to meet temporary local needs. They are spoken by people who use other languages or other languages to serve most of their needs and the needs of their children. If is no longer needed, it will die. It might also be continually recreated three is a reason to believes, for example, that pidgin English or Hawaiian English Pidgins has an unbroken history.     




ASSIGNMENT

1. PLEASE CREATE THE PROCESS/THE WAY PIDGIN BEING CREOLE WITH  YOUR OWN STYLE. You can describe it toward description, video, animation, cycle, or others way. Then, please give the clear explanation and examples!